Lompat ke isi utama

Berita

Membangun Imunitas Demokrasi di Kota Resik: Bawaslu dan Pemuda Muhammadiyah Bangun Investasi Jangka Panjang

Membangun Imunitas Demokrasi di Kota Resik: Bawaslu dan Pemuda Muhammadiyah Bangun Investasi Jangka Panjang

Membangun Imunitas Demokrasi di Kota Resik: Bawaslu dan Pemuda Muhammadiyah Bangun Investasi Jangka Panjang

TASIKMALAYA  22 Januari 2025 – Bawaslu Kota Tasikmalaya mengambil langkah berani dengan "mencuri start" dalam hal edukasi demokrasi. Di saat mesin partai politik mungkin masih dalam mode pemanasan, Bawaslu justru sudah tancap gas melakukan konsolidasi demokrasi bersama Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah Kota Tasikmalaya.

Langkah ini bukan sekadar pertemuan seremonial. Ini adalah upaya strategis untuk menjadikan masa di luar tahapan pemilu sebagai ruang inkubasi bagi lahirnya pengawas partisipatif yang tangguh. Tujuannya satu: memastikan pemilu mendatang di Kota Tasikmalaya bukan sekadar ajang sirkulasi kekuasaan, melainkan pesta demokrasi yang bermartabat.

Mengubah Paradigma: Dari Reaktif Menjadi Preventif

Selama ini, pengawasan pemilu seringkali bersifat reaktif—bertindak saat pelanggaran sudah terjadi. Namun, melalui konsolidasi dengan Pemuda Muhammadiyah, Bawaslu Kota Tasikmalaya ingin mengubah narasi tersebut.

"Konsolidasi di luar tahapan pemilu adalah investasi jangka panjang. Kita sedang membangun fondasi. Ketika tahapan resmi dimulai, kita tidak ingin masyarakat baru belajar apa itu pelanggaran. Kita ingin mereka sudah memiliki daya tangkal atau resilience yang kuat," ujar perwakilan Bawaslu Kota Tasikmalaya.

Fokus utama dari kerja sama ini adalah Edukasi dan Pengawasan. Pemuda Muhammadiyah, dengan jaringan kadernya yang luas dan intelektualitasnya, dinilai sebagai mitra strategis untuk menyebarkan virus pengawasan partisipatif hingga ke tingkat akar rumput.

Menyiapkan "Benteng" Terhadap Kerawanan Pemilu

Kota Tasikmalaya, yang dikenal dengan julukan Kota Resik, diharapkan memiliki wajah politik yang sebersih julukannya. Ada tiga tantangan besar yang menjadi fokus dalam membangun daya tangkal pemuda:

  1. Imunitas terhadap Politik Uang: Mengubah pola pikir dari "politik transaksional" menjadi "politik gagasan".
  2. Literasi Digital Tinggi: Membekali pemuda kemampuan untuk membedakan antara kritik sehat, disinformasi, dan hoaks yang sering memecah belah warga.
  3. Keberanian Melapor: Menciptakan ekosistem di mana melaporkan pelanggaran dianggap sebagai tindakan heroik bagi demokrasi, bukan hal yang menakutkan.

Investasi untuk Masa Depan Kota Resik

Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Tasikmalaya menyambut baik langkah ini. Menurutnya, pemuda adalah pemilik masa depan demokrasi. Jika pemuda hari ini sudah terbiasa dengan iklim demokrasi yang sehat, maka kualitas pemimpin Kota Tasikmalaya di masa depan juga akan meningkat.

"Kami tidak ingin pemuda hanya jadi penonton atau sekadar alat mobilisasi suara. Kami ingin menjadi subjek yang aktif menjaga integritas pemilu," tegasnya.

Dengan konsolidasi ini, Bawaslu berharap ketika gong tahapan pemilu resmi ditabuh oleh KPU, masyarakat Kota Tasikmalaya sudah dalam kondisi "siap tempur" secara intelektual. Mereka tidak akan mudah terombang-ambing oleh janji palsu atau provokasi, karena mereka telah memiliki resilience—sebuah imunitas yang dibangun jauh-jauh hari melalui pendidikan politik yang konsisten.

Menuju Pesta Demokrasi yang Bermartabat

Pada akhirnya, keberhasilan pemilu tidak hanya diukur dari tingginya partisipasi di tempat pemungutan suara (TPS), tetapi dari seberapa bersih dan jujur proses tersebut berlangsung. Melalui kolaborasi antara lembaga pengawas dan organisasi kepemudaan seperti Pemuda Muhammadiyah, Kota Tasikmalaya sedang menuliskan sejarah baru: bahwa demokrasi yang berkualitas dimulai dari kesadaran yang dibangun secara berkelanjutan, bukan instan di saat kampanye saja.

Demokrasi di Kota Resik haruslah benar-benar "Resik"—bersih dari praktik curang dan harum dengan adu gagasan yang mencerahkan.

Humas Bawaslu Kota Tasikmalaya